Menghidupkan Keterampilan Menyimak

Keterangan Foto: 
Sesi foto promovenda dan para penguji (dok.pbsi uny)

Menghidupkan Keterampilan Menyimak

UNY-- Di antara keterampilan berbahasa yang lain, keterampilan menyimak berada di jalan sunyi. Tidak banyak akademisi mau mendalaminya. Terlebih mendalami pembelajaran keterampilan menyimak. Salah satu akademisi yang setia menempuh jalan sunyi tersebut, yakni Dr. Nurhidayah, M.Hum., dosen PBSI UNY yang pada Senin, 30 Oktober 2023 lalu telah berhasil mempertahankan disertasinya tentang pembelajaran menyimak: "Pedagogi Kritis: Pengembangan Model Pembelajaran Menyimak Komprehensi Berbasis Strategi Metakognitif".

Menggunakan desain penelitian pengembangan untuk tugas pamungkas di Program Studi Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa UNY, Dr. Nurhidayah, M.Hum. menghasilkan model dan produk bahan pembelajaran yang mendukung pembelajaran menyimak bagi mahasiswa. Dalam pandangannya, keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang penting terlebih pada era "kelisanan-kedua", istilah yang dipinjam dari Prof. Dr. Suminto A. Sayuti (penguji internal) mengenai fenomena digital.

Ketika penguji eksternal, Prof. Dr. Isah Cahayani, M.Pd., menanyakan tentang kebaruan apa yang ditawarkan dalam model pembelajaran menyimak, promovenda menjelaskan tentang pentingnya menyimak yang komprehensi yang tidak cukup hanya berhenti pada level kognisi, tetapi metakognisi.

Prof. Dr. Suhardi, M.Pd., selaku promotor, memberikan kesaksian bahwa memang Dr. Nurhidayah, M.Hum. ini sejak pertama mengajar di PBSI UNY, memiliki ketertarikan terhadap pembelajaran menyimak. Tidak hanya tertarik, tetapi mampu bertahan mencintainya hingga hari ini di saat beberapa yang lain tidak mampu bertahan.

Pembahasan tentang keterampilan menyimak berbasis metakognitif ditampilkan di hadapan ketua penguji,  Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd.; kopromotor dan sekretaris penguji, Dr. Kastam Syamsi, M, Ed.; penguji internal 1, Prof. Dr. Suminto A. Sayuti; dan promotor sekaligus penguji, Prof. Dr. Suhardi, M.Pd.

Ketika ditanya tentang lika-liku proses studi doktoralnya, perempuan kelahiran Klirong, Kebumen, 7 November 1974 tersebut menjelaskan dengan bijaksana, "Proses untuk masing-masing orang berbeda. Yang penting, jangan melihat banyaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan, tetapi kerjakan satu persatu sampai suatu saat kita merasakan bahwa itu terselesaikan."*

 

Penulis: Eko

Editor: Erlin

 

 

 

 

 

 

Label Berita: